Rabu, 01 Februari 2012

perjuangan saya untuk kuliah

ketika lulus SMA alhamdulilah saya masih beruntung di banding dengan beberapa teman saya, saya meneruskan study ke perguruan tinggi yang berada di bandung, tadi orang tua saya tidak mengijinkan saya kuliah di bandung di karenakan biaya hidup di sana yg tinggi, saya berusaha meyakinkan orang tua saya agar mengijinkan saya kuliah di bandung khusunya di politeknik telkom,

suatu ketika, saya mendapat pengumuman entah dari mana bahwa di STT telkom sapaan orang awam di daerah saya, sedang membuka pendaftaran ketika itu saya mencoba mendaftarkan diri ternyata yang saya ikuti itu adalah jalur khusus yg uang gedung min 15.jt ketika itu saya kaget di buatnya bagaimana saya tidak kaget karena orang tua saya teransparan terhadap biaya kuliah saya, jadi saya tau anggaran biaya saya untuk masuk kuliah, ketika beberapa hari kemudian saya mendapat pengumuman bahwa di telkom itu ada jalur PMDKnya, ketika itu saya langsung mendaftarkan diri dan saya harus menginputkan nilai-nilai matematika dan bahasa inggris dari smster 3 , 4, 5 dan 6, setelah nilai di inputkan saya wajib mengirimkan berkas itu ke sekertariatnya di bandung tapi saya tidak sendiran ketika mendaftarnya saya bareng 2 orang teman saya Thania dan lailan, alhamdulilah kami bertiga di terima dalam 1 kampus, tapi teman2 saya tidak ada yang ngambil jadi saya dari SMA hanya sebatang kara di kampus itu,

ketika orang tua saya mengijinkan saya kuliah di bandung ada lagi masalah baru yang timbul, ketika itu uang buat melakukan registrasi ulang kurang 4.jt ternyata, ketika itu saya bingung harus mencari 4 juta dalam 2 bulan, kebetulan waktu itu di PRJ (pekan raya jakarta) sedang membutuhkan banyak karyawan dan gajinya pun lumayan saya pun memberanikan diri untuk melamar pekerjaan itu dan ketika di tunggu-tunggu akhirnya lamaran saya di tolak, ketika itu saya merasa kan ujian yang benar2 nikmat karena yg ada di pikiran saya waktu itu pasti allah merencanakan hal yg lain untuk saya, saya selalu berpikiran postifi, dan di luar dugaan orang tua saya mendapat tugas dari kelurahan untuk melakukan sensus penduduk, berhubung status saya waktu itu penganguran jadi saya di ajak orang tua saya untuk mendaftarkan diri, dan saya di tunjuk oleh rekan2 dalam 1 tim sebagai ketua, saya kaget ketika di tunjuk sebagai ketua karena anggota saya dalam sensus penduduk sudah pada berkeluarga semua saya anggota termuda,

di tengah perjalanan sensus penduduk tim saya 1 orang mengundurkan diri karena sudah di terima kerja di PT, ketika itu saya yg di tunjuk sebagai ketua saya binggung mau ngambil siapa untuk menutupi kekurangan itu, alhasil orang tua saya yg mendaftarkan diri, saya jadi tambah ga nyangka lagi, kalau saya harus memimpin orang tua saya dalam tim sensus penduduk, tapi saya jalanin aja dari ketemu orang yang baik-baik sampai ketemu orang yg kurang sopan, jelas-jelas kami menggunakan atribut yg di berikan orang kelurahan untuk melakukan sensus penduduk eh kami malah di usir di kira tukang minta-minta, dari situlah peranan saya sebagai ketua di tuntut, setelah di jelaskan orang tersebut akhirnya mengerti juga,

akhirnya sensus penduduk selama 1 bulan sudah kami jalani dengan baik tingggal menggung dana dari kelurahan cair, berhubung saya sebagai ketua maka jatah yang saya terima lebih besar dari anggota sekitar 2,8 jt dan anggota mendapat 2,3 jt, jadi kalau uang saya + uang orang tua saya (ibu) totalnya 5,1 jt sedangkan dana yg saya butuhkan kurang 4 jt lagi, dan sisanya saya belikan pralatan untuk saya ngkos di bandung nanti, dari situ ada kebanggan tersendri dari yang saya kerjakan,

mungkin segitu saja ceritadari saya untuk menambahi dana registrasi ulang kuliah saya,
maap apabila ada salah dalam penulisan kata-kata, terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar